Lebong, Bengkulu,-Pencegahan stunting dilakukan melalui dua pendekatan utama, intervensi gizi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik, dengan menangani penyebab langsung di sektor kesehatan melalui pemberian gizi kepada kelompok ibu hami, balita dan remaja putri. Sementara intervensi sensitif dengan menangani penyebab tidak langsung di luar sektor kesehatan yang fokus pada kondisi lingkungan, ekonomi, dan sosial untuk mendukung pencegahan dari akar masalah.
Percepatan penurunan stunting di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu tidak cukup hanya dilakukan melalui pemenuhan gizi, tetapi juga membutuhkan perhatian serius terhadap kondisi sanitasi keluarga. Ketersediaan jamban sehat menjadi salah satu intervensi penting untuk mencegah penyakit infeksi yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak.
Penyediaan jamban sehat merupakan intervensi sensitif yang sangat krusial dalam mempercepat penurunan angka stunting di Kabupaten Lebong. Hal itu terungkap dalam pertemuan pembinaan tenaga penyuluh dan petugas lapangan KB di Lebong, Senin, awal pekan kedua Agustus 2026. Hadir pada pertemuan itu Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, dr. H. Zamhir Setiawan, M.Epid., yang didampingi Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, Weldi Suisno, S.Pd., M.E., Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kabupaten Lebong, Eropa, S.K.M., M.M. dan sejumlah PKB/PLKB di daerah itu. Kabupaten Lebong dengan 12 kecamatan terdapat masing-masing satu unit balai penyuluh KB yang tersebar di sejumlah kecamatan di Lebong. Dengan kondisi kesehatan lingkungan masih minim persediaan jamban sehat di lingkungan keluarga di 12 daerah kecamatan itu.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, dr. H. Zamhir Setiawan, M.Epid., menyikapi hal tersebut untuk bergandengan bersama pemerintah daerah setempat dalam mengintervensi lingkungan yang sehat. Sanitasi yang buruk, termasuk kebiasaan buang air besar sembarangan, dapat meningkatkan risiko paparan berbagai sumber penyakit. Infeksi berulang, terutama diare, dapat mengganggu penyerapan zat gizi dan pada akhirnya berpengaruh terhadap pertumbuhan anak.
Karena itu, pembangunan jamban sehat perlu ditempatkan sebagai bagian dari intervensi gizi sensitif dalam percepatan penurunan stunting. Upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan gizi, pemeriksaan kesehatan ibu dan anak, pemantauan pertumbuhan balita serta edukasi perilaku hidup bersih dan sehat.
"Perlunya intervensi melalui pemnyediaan jamban sehat untuk menyelamatkan 34.829 keluarga di daerah itu serta membentengi 4.147 Keluarga Berisiko Stunting (KRS). Secara khusus akan mengintervensi 407 KRS dengan risiko tinggi diLebong," ujar dr. Zamhir.
![]() |
| Foto: Pertemuan dan Pembinaan Kepegawaian serta sinkronisasi program BANGGAKENCANA bersama Penyuluh KB di Kabupaten Lebong, Senin, (10/8/2026). |
Sementara itu, Kepala DP3APPKB Kabupaten Lebong, Eropa, S.K.M., M.M., menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Lebong sendiri terus memperkuat strategi penurunan stunting melalui kolaborasi lintas sektor dan pelibatan masyarakat. Pada 2026, pemerintah daerah juga mendorong keterlibatan pihak ketiga melalui Gerakan Orang Tua Asuh sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan gizi keluarga berisiko stunting.
Dalam konteks pencegahan stunting, keluarga menjadi garda terdepan. Tidak hanya memastikan anak mendapatkan makanan bergizi, tetapi juga menyediakan lingkungan rumah yang sehat, termasuk air bersih dan jamban yang memenuhi standar kesehatan. Penguatan sanitasi juga membutuhkan dukungan pemerintah desa, kader, tenaga kesehatan dan masyarakat. Edukasi harus dibarengi dengan penyediaan sarana, sehingga perubahan perilaku dapat berlangsung secara berkelanjutan.(irs)
Penulis : Idris Chalik
Editor : Tim Kehumasan Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu
Rilis : Rabu,(12/8/2026).


